Tampilkan postingan dengan label Aceh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aceh. Tampilkan semua postingan
Selasa, 18 Februari 2014
DATA PENDUDUK
DATA
PENDUDUK
a.
Jumlah Penduduk berdasarkan Jenis Kelamin
Survei data terakhir yang berkaitan dengan jenis kelamin
dapat dibagi dalam dua kelompok yaitu kelompok dengan jenis kelamin laki-laki
dan jenis kelamin perempuan.
Jumlah penduduk berjenis kelamin laki-laki dari ketiga
dusun yang ada di Gampong Meunasah Baro adalah 181 jiwa dan yang berjenis
kelamin perempuan adalah 186 jiwa dengan total keseluruhan penduduk 367 jiwa.
Tabel
Jumlah Penduduk berdasarkan Jenis Kelamin
No
|
Dusun
|
Laki-laki
|
Perempuan
|
Jumlah
|
Persentase
|
1
|
Tgk. Arief
|
64
|
63
|
127
|
34,60%
|
2
|
Syeh Bie
|
52
|
60
|
112
|
30,51%
|
3
|
Tok Nawa
|
65
|
63
|
128
|
34,87%
|
Total
|
181
|
186
|
367
|
100%
|
|
b.
Jumlah Penduduk berdasarkan Pendidikan
Pendidikan merupakan salah satu pendorong dalam memajukan
tingkat kesejahteraan ekonomi masyarakat Gampong Meunasah Baro.
Klasifikasi tersebut dilakukan di tiap-tiap dusun dengan
mendapat bantuan dari Kepala Dusun pada saat dilakukan survey pendataan dan
juga menggunakan data yang ada Sekretaris desa sebagai data perbandingan.
Jumlah penduduk tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel
Jumlah Penduduk berdasarkan Pendidikan
No
|
Pendidikan Terakhir
|
Laki-laki
|
Perempuan
|
Jumlah
|
Persentase
|
1
|
SD/sederajat
|
42
|
40
|
82
|
22,34 %
|
2
|
SMP/sederajat
|
17
|
25
|
42
|
11,44 %
|
3
|
SMA/sederajat
|
60
|
55
|
115
|
31,33 %
|
4
|
Diploma 3
|
6
|
16
|
22
|
6 %
|
5
|
Strata 1
|
21
|
14
|
35
|
9,53 %
|
6
|
Strata 2
|
1
|
2
|
3
|
0,81 %
|
7
|
Tidak Sekolah
|
2
|
3
|
5
|
1,36 %
|
8
|
Belum Sekolah
|
36
|
27
|
63
|
17,16 %
|
Total
|
185
|
182
|
367
|
100 %
|
|
c.
Jumlah Penduduk berdasarkan Mata Pencaharian
Secara umum mata pencaharian penduduk Gampong Meunasah
Baro adalah Wiraswasta dengan persentase 13,07 % dan sebagian kecil bermata pencaharian sebagai
Petani/Pekebun dengan persentase 7,62 %. Disusul dengan masyarakat yang
bermata pencaharian sebagai PNS/TNI/POLRI dengan persentase 4,90 %. Jumlah
tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel
Jumlah Penduduk berdasarkan Mata Pencaharian
No
|
Mata Pencaharian
|
Jumlah
|
Persentase
|
1
|
Petani/Pekebun
|
28
|
7,62 %
|
2
|
PNS/TNI/POLRI
|
18
|
4,90 %
|
3
|
Dosen/Guru
|
2
|
0,54 %
|
4
|
Pedagang
|
3
|
0,81 %
|
5
|
Tukang Bangunan
|
2
|
0,54 %
|
6
|
Nelayan
|
1
|
0,27 %
|
7
|
Wiraswasta
|
48
|
13,07 %
|
8
|
Pensiunan
|
3
|
0,81 %
|
9
|
Sopir
|
1
|
0,27 %
|
10
|
Mahasiswa/Pelajar
|
86
|
23,43 %
|
11
|
Ibu Rumah Tangga
|
75
|
20,43 %
|
12
|
Lain-lain (tidak tetap)
|
100
|
27,24 %
|
Total
|
367
|
100 %
|
|
Pada masa awal mata pencaharian masyarakat Gampong Meunasah Baro adalah sebagai Petani, Buruh/Tukang, namun sekarang ada juga yang beralih profesi antara lain menjadi Sopir, Pedagang dan kegiatan-kegiatan ekonomi lainnya. Di samping itu ada juga yang berprofesi sebagai PNS dan akibat masuknya masyarakat dari luar yang mempunyai pekerjaan Wiraswasta yang mempunyai tingkat kemandirian yang lebih baik sehingga berpengaruh pada gaya hidup sehari-hari dan kemajemukan pekerjaan yang digeluti.
Dikarenakan tingkat pendidikan yang rata-rata tamatan
SMA, maka kebanyakan dari mereka hanya menjadi buruh kasar. Pekerjaan yang
mereka geluti ini sifatnya tidak tetap dan hanya pada waktu tertentu saja. Dari
data pada tabel di atas, masyarakat yang bekerja tidak tetap mencapai
persentase 27,24 %. Dengan tingkat pendidikan warga yang sebagian besar hanya
tamatan SMA membuat pola pikir masyarakat cenderung berpikir temporer dalam menyelesaikan masalah,
misalnya mereka bekerja hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari
saja.
Dengan demikian dari data tersebut menunjukkan bahwa tingkat
kerawanan pengangguran dan kemiskinan di Gampong Meunasah Baro masih
menunjukkan angka yang mengkhawatirkan. Hal ini disebabkan karena tingkat
pendidikan maksimal masyarakat yang rata-rata hanya mencapai pada tingkat
SMA/sederajat saja. Semoga tingkat pendidikan masyarakat di masa yang akan
datang semakin menanjak tinggi agar dapat meningkatkan perekonomian masyarakat
menuju kesejahteraan.
PELAKU PEMBANGUNAN GAMPONG
PELAKU
PEMBANGUNAN GAMPONG
A.
Pemerintah
1.
Pelaku
pembangunan gampong adalah seluruh masyarakat dengan membantu tenaga untuk
bergotong royong dengan sumber dana patungan (swadaya).
2.
Dana
yang lebih besar sangat diharapkan untuk membangun gampong adalah dari
pemerintah yaitu Dana Bandes.
3.
Pembangunan
drainase oleh Bandes tahun anggaran 1980-1990 sepanjang 1.230 meter.
B.
Non Pemerintah
1.
Yayasan
Inovasi Pemerintah Daerah (YIPD) dengan donatur Bessember yayasan Mantan
Presiden USA Bill Clinton.
2.
YIPD
membangun pipa air bersih namun gagal total.
3.
Mercy
Corp dan Palang Merah Amerika membangun lapangan volley ball, pagar sawah,
membantu petani untuk membajak sawah, bibit dan pupuk.
4.
Plan
International dan Palang Merah Australia membangun Polindes, Klinik Bersalin
dan peralatannya.
5.
Australian
AIDS membangun ruang pertemuan dan kantor Keuchik serta sanitasi sepanjang 60
meter.
6.
UN
Habitat membantu masyarakat tani untuk menanam palawija dan membangun rumah
dinding papan sebanyak 20 unit.
7.
BRR
NAD dan Nias membangun 30 unit rumah permanen dan pengerasan jalan sepanjang
2,5 kilometer dalam rangka meningkatkan ekonomi masyarakat tani serta membangun
drainase sepanjang 1.500 meter.
KONDISI DEMOGRAFIS GAMPONG
Orbitrasi
(Jarak dari Pusat Pemerintahan Gampong)
- Jarak dari pusat pemerintahan kecamatan : 3,5 kilometer
- Jarak dari pusat pemerintahan kota administratif : 66 kilometer
- Jarak dari ibu kota kabupaten Aceh Besar : 66 kilometer
- Drainase / Talut : 4500 meter
- Panjang jalan kecamatan : 2500 meter
- Panjang jalan gampong : 5600 meter
- Panjang jalan setapak : 5200 meter
Senin, 17 Februari 2014
SEJARAH PEMBANGUNAN GAMPONG
SEJARAH
PEMBANGUNAN GAMPONG
Berawal pada
tahun 1945 dimana dilaksanakan pemindahan dan pembangunan kembali meunasah
kecil atau balee berukuran 8x5m dari Lambee tempat meunasah Tok Nawa berada ke
lokasi baru tempat Meunasah Baro
sekarang berada. Pada akhir kepemimpinan Keuchik Sulaiman (tahun 1945)
direncanakan pembangunan meunasah berbentuk rumoh aceh dan baru selesai
dibangun semasa kepemimpinan Keuchik Ibrahim tahun 1960. Saat Keuchik Ibrahim
memegang tampuk pimpinan dan atas kemampuan dan kemauan masyarakat berhasil
merehab sumur pada tanggal 5 Mei 1955 yang dikerjakan secara gotong-royong oleh pemuda Meunasah Baro dan pemuda Meunasah
Moncut.
Pada tahun 1965
masyarakat menganggap perlu membangun
meunasah atau tempat ibadah yang baru. Ide tersebut digerakan dari hasil musyawarah gampong, maka dengan
bergotong royong masyarakat mengambil pupuk gua (ek semantong) di urong (Gua
Siblah ) Lampuuk, kemudian pupuk gua tersebut dijual kepada para petani.
Disamping itu diperoleh dana patungan (ripee) dan uang atau hasil panen padi
dan cengkeh, uang tersebut digunakan untuk membangun meunasah sampai
selesai di tahun 1975.
Dalam tahun 1975
ini masyarakat Meunasah Baro khususnya dan mukim Lhamlhom umumnya merasa
senang dan bahagia karena ada ide dari
sesepuh opinion leader Meunasah Baro Yaitu Bapak M. Noer Naim, yang mana idenya
memasukkan listrik PLN ke Desa Lamlhom dan didukung oleh tokoh masyarakat
lainnya seperti: Zamzam PG, Muhammad Y, Mahmud MK, M. Jalil Sabib, Abdullah
Hasyem, Hasan Ibrahim, T. Adan dan seluruh unsur masyarakat serta MKT (Majelis
Keuchik dan Tengku). Hasil loby Bapak Noer Naim dengan Ka. Kanwil PLN persero
diterima dan dalam tahun ini (1975) masyarakat Lamlhom menggantikan lampu
tradisional dengan listrik.
Dengan masuknya
PLN ke desa maka masyarakat sangat berbahagia karena memudahkan bagi masyarakat
untuk beribadah, pengajian, belajar, perobahan alat rumah tangga ke yang lebih
baik dan modern seperti TV, tape dan lain-lain.
Pada masa 1976
keadaan masyarakat pada umumnya masih sangat minim pembagunannya dengan kata
lain hampir tidak ada, dan kalaupun ada merupakan swadaya masyarakat dan itupun
volumenya sangat kecil hingga adanya perubahan pimpinan pemerintah baik jangka
pendek, menengah dan jangka panjang.
Selama
pemerintahan dikuasi oleh Orde Baru seiring dengan program-program pemerintah
tersebut sudah mulai ada perhatian dari pemerintah untuk mensubsidi bantuan
untuk pembagunan desa/gampong yang besarannya berubah-ubah sesuai dengan
perkembangan waktu yang dinamakan Bantuan Desa (BANDES). Banyak pembagunan yang
dilaksanakan seperti gedung PKK, Mushalla Wanita, Lapangan volly, membuka jalan
baru, drainase dan infrastruktur lainnya. Dalam masa itu masyarakat merasa
sejahtera karena:
1. Suasana pembangunan
dan keamanan yang kondusif;
2. Harga komoditi
pertanian di pasaran menguntungkan petani;
3. Seluruh gampong
diberi bantuan dana untuk mengembangkan diri;
4. Seluruh desa
diberikan kesempatan untuk ikut lomba desa;
5. Desa Meunasah Baro
Lamlhom alhamdulillah pernah berhasil memperoleh juara 1 Lomba Desa tingkat
Kabupaten Aceh Besar pada tahun 1994.
Dalam dekade tahun 1998 s.d 2005 walaupun tetap mendapat bantuan dari
pemerintah namun merupakan tahun yang paling meresahkan masyarakat secara umum
karena oleh situasi negara sedang dilanda krisis moneter berkepanjangan dimana
harga semua komoditas dan semua kebutuhan masyarakat naik, ditambah lagi dengan
konflik dimana-mana, keamanan tidak kondusif. Akibat daripada konflik ini
segala proyek/rencana pembangunan milik pemerintah tidak berjalan sebagaimana
mestinya, demikian juga rencana yang akan dilaksanakan oleh masyarakat.
Di tahun ini pula sebuah
musibah yang paling dahsyat menimpa pesisir barat pantai Aceh pada hari Minggu
tanggal 24 Desember 2004 sehingga meluluhlantakkan sarana dan prasarana gampong yang telah dibangun
oleh masyarakat seperti balai meunasah,
mushalla wanita, gedung PKK, sarana prasarana olahraga, juga termasuk
rumah-rumah masyarakat gampong Meunasah Baro hancur dibawa gelombang sebanyak 50
unit rumah. Pasca tsunami LSM dari berbagai provinsi di tanah air masuk ke Aceh
mengevakuasi sisa-sisa mayat yang belum habis dievakuasi oleh masyarakat
setempat terutama yang tertimbun sampah dan puing.
Kemudian tidak kalah pentingnya NGO asing masuk ke desa-desa dengan membawa
alat berat untuk membersihkan sampah/puing dan membantu membersihkan
sumur-sumur milik masyarakat dengan menggunakan peralatan modern untuk
mensterilkan air konsumsi masyarakat. Namun sekarang masyarakat sangat
mengharapkan BRR untuk dapat memperoleh rumah bantuan tambahan karena ada
masyarakat yang belum punya rumah dan meminta dana untuk merehab rumah yang
tidak rusak berat, di samping itu juga meminta sarana dan prasarana yang lain
seperti: lampu penerangan jalan, jalan hotmix dan water lading (Air Minum).
Langganan:
Postingan (Atom)
