Tampilkan postingan dengan label meunasah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label meunasah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Februari 2014

Aset Gampong Meunasah Baro Berupa Bangunan

                                          Gambar 1. Mushalla Wanita

Selasa, 18 Februari 2014

Menikmati Indahnya Panorama Leupung sembari foto bersama

Mahasiswa KKN Unsyiah Tahun 2014 dan warga Meunasah Baro foto bersama Wakil Wali Kota Banda Aceh Hj. Illiza Sa'aduddin Djamal, S.E di warung Mie Aceh Leupung.

DATA PENDUDUK

DATA PENDUDUK
a.     Jumlah Penduduk berdasarkan Jenis Kelamin
Survei data terakhir yang berkaitan dengan jenis kelamin dapat dibagi dalam dua kelompok yaitu kelompok dengan jenis kelamin laki-laki dan jenis kelamin perempuan.

Jumlah penduduk berjenis kelamin laki-laki dari ketiga dusun yang ada di Gampong Meunasah Baro adalah 181 jiwa dan yang berjenis kelamin perempuan adalah 186 jiwa dengan total keseluruhan penduduk 367 jiwa.

Tabel Jumlah Penduduk berdasarkan Jenis Kelamin
No
Dusun
Laki-laki
Perempuan
Jumlah
Persentase
1
Tgk. Arief
 64
 63
 127
 34,60%
2
Syeh Bie
 52
 60
112
 30,51%
3
Tok Nawa
65
 63
 128
 34,87%
Total
 181
 186
 367
 100%

b.    Jumlah Penduduk berdasarkan Pendidikan
Pendidikan merupakan salah satu pendorong dalam memajukan tingkat kesejahteraan ekonomi masyarakat Gampong Meunasah Baro.
Klasifikasi tersebut dilakukan di tiap-tiap dusun dengan mendapat bantuan dari Kepala Dusun pada saat dilakukan survey pendataan dan juga menggunakan data yang ada Sekretaris desa sebagai data perbandingan. Jumlah penduduk tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel Jumlah Penduduk berdasarkan Pendidikan
No
Pendidikan Terakhir
Laki-laki
Perempuan
Jumlah
Persentase
1
SD/sederajat
42
40
82
22,34 %
2
SMP/sederajat
17
25
42
11,44 %
3
SMA/sederajat
60
55
115
31,33 %
4
Diploma 3
6
16
22
       6 %
5
Strata 1
21
14
35
  9,53 %
6
Strata 2
1
2
3
  0,81 %
7
Tidak Sekolah
2
3
5
  1,36 %
8
Belum Sekolah
36
27
63
17,16 %
Total
185
182
367
   100 %
c.      Jumlah Penduduk berdasarkan Mata Pencaharian
     Secara umum mata pencaharian penduduk Gampong Meunasah Baro adalah Wiraswasta dengan persentase 13,07 %  dan sebagian kecil bermata pencaharian sebagai Petani/Pekebun dengan persentase 7,62 %. Disusul dengan masyarakat yang bermata pencaharian sebagai PNS/TNI/POLRI dengan persentase 4,90 %. Jumlah tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini: 
Tabel Jumlah Penduduk berdasarkan Mata Pencaharian
No
Mata Pencaharian
Jumlah
Persentase
1
Petani/Pekebun
28
7,62 %
2
PNS/TNI/POLRI
18
4,90 %
3
Dosen/Guru
2
0,54 %
4
Pedagang
3
0,81 %
5
Tukang Bangunan
2
0,54 %
6
Nelayan
1
0,27 %
7
Wiraswasta
48
13,07 %
8
Pensiunan
3
0,81 %
9
Sopir
1
0,27 %
10
Mahasiswa/Pelajar
86
23,43 %
11
Ibu Rumah Tangga
75
20,43 %
12
Lain-lain (tidak tetap)
100
27,24 %
Total
367
100 %

Pada masa awal mata pencaharian masyarakat Gampong Meunasah Baro adalah sebagai Petani, Buruh/Tukang, namun sekarang ada juga yang beralih profesi antara lain menjadi Sopir, Pedagang dan kegiatan-kegiatan ekonomi lainnya. Di samping itu ada juga yang berprofesi sebagai PNS dan akibat masuknya masyarakat dari luar yang mempunyai pekerjaan Wiraswasta yang mempunyai tingkat kemandirian yang lebih baik sehingga berpengaruh pada gaya hidup sehari-hari dan kemajemukan pekerjaan yang digeluti.

        Dikarenakan tingkat pendidikan yang rata-rata tamatan SMA, maka kebanyakan dari mereka hanya menjadi buruh kasar. Pekerjaan yang mereka geluti ini sifatnya tidak tetap dan hanya pada waktu tertentu saja. Dari data pada tabel di atas, masyarakat yang bekerja tidak tetap mencapai persentase 27,24 %. Dengan tingkat pendidikan warga yang sebagian besar hanya tamatan SMA membuat pola pikir masyarakat cenderung berpikir temporer dalam menyelesaikan masalah, misalnya mereka bekerja hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari saja.

     Dengan demikian dari data tersebut menunjukkan bahwa tingkat kerawanan pengangguran dan kemiskinan di Gampong Meunasah Baro masih menunjukkan angka yang mengkhawatirkan. Hal ini disebabkan karena tingkat pendidikan maksimal masyarakat yang rata-rata hanya mencapai pada tingkat SMA/sederajat saja. Semoga tingkat pendidikan masyarakat di masa yang akan datang semakin menanjak tinggi agar dapat meningkatkan perekonomian masyarakat menuju kesejahteraan.

PELAKU PEMBANGUNAN GAMPONG

PELAKU PEMBANGUNAN GAMPONG
A.   Pemerintah
1.     Pelaku pembangunan gampong adalah seluruh masyarakat dengan membantu tenaga untuk bergotong royong dengan sumber dana patungan (swadaya).
2.     Dana yang lebih besar sangat diharapkan untuk membangun gampong adalah dari pemerintah yaitu Dana Bandes.
3.     Pembangunan drainase oleh Bandes tahun anggaran 1980-1990 sepanjang 1.230 meter.

B.   Non Pemerintah
1.     Yayasan Inovasi Pemerintah Daerah (YIPD) dengan donatur Bessember yayasan Mantan Presiden USA Bill Clinton.
2.     YIPD membangun pipa air bersih namun gagal total.
3.     Mercy Corp dan Palang Merah Amerika membangun lapangan volley ball, pagar sawah, membantu petani untuk membajak sawah, bibit dan pupuk.
4.     Plan International dan Palang Merah Australia membangun Polindes, Klinik Bersalin dan peralatannya.
5.     Australian AIDS membangun ruang pertemuan dan kantor Keuchik serta sanitasi sepanjang 60 meter.
6.     UN Habitat membantu masyarakat tani untuk menanam palawija dan membangun rumah dinding papan sebanyak 20 unit.
7.     BRR NAD dan Nias membangun 30 unit rumah permanen dan pengerasan jalan sepanjang 2,5 kilometer dalam rangka meningkatkan ekonomi masyarakat tani serta membangun drainase sepanjang 1.500 meter. 

KONDISI DEMOGRAFIS GAMPONG

Orbitrasi (Jarak dari Pusat Pemerintahan Gampong)
  •   Jarak dari pusat pemerintahan kecamatan               : 3,5 kilometer
  •  Jarak dari pusat pemerintahan kota administratif     : 66 kilometer
  •  Jarak dari ibu kota kabupaten Aceh Besar              : 66 kilometer
  •  Drainase / Talut                                                    : 4500 meter
  •  Panjang jalan kecamatan                                        : 2500 meter
  •  Panjang jalan gampong                                          : 5600 meter
  •  Panjang jalan setapak                                             : 5200 meter

Senin, 17 Februari 2014

SEJARAH PEMBANGUNAN GAMPONG

SEJARAH PEMBANGUNAN GAMPONG
     Berawal pada tahun 1945 dimana dilaksanakan pemindahan dan pembangunan kembali meunasah kecil atau balee berukuran 8x5m dari Lambee tempat meunasah Tok Nawa berada ke lokasi baru tempat Meunasah Baro  sekarang berada. Pada akhir kepemimpinan Keuchik Sulaiman (tahun 1945) direncanakan  pembangunan meunasah  berbentuk rumoh aceh dan baru selesai dibangun semasa kepemimpinan Keuchik Ibrahim tahun 1960. Saat Keuchik Ibrahim memegang tampuk pimpinan dan atas kemampuan dan kemauan masyarakat berhasil merehab sumur pada tanggal 5 Mei 1955 yang dikerjakan secara gotong-royong  oleh pemuda Meunasah Baro dan pemuda Meunasah Moncut.
     Pada tahun 1965 masyarakat  menganggap perlu membangun meunasah atau tempat ibadah yang baru. Ide tersebut digerakan  dari hasil musyawarah gampong, maka dengan bergotong royong masyarakat mengambil pupuk gua (ek semantong) di urong (Gua Siblah ) Lampuuk, kemudian pupuk gua tersebut dijual kepada para petani. Disamping itu diperoleh dana patungan (ripee) dan uang atau hasil panen padi dan cengkeh, uang tersebut digunakan untuk membangun meunasah sampai selesai  di tahun 1975.
     Dalam tahun 1975 ini masyarakat Meunasah Baro khususnya dan mukim Lhamlhom umumnya merasa senang  dan bahagia karena ada ide dari sesepuh opinion leader Meunasah Baro Yaitu Bapak M. Noer Naim, yang mana idenya memasukkan listrik PLN ke Desa Lamlhom dan didukung oleh tokoh masyarakat lainnya seperti: Zamzam PG, Muhammad Y, Mahmud MK, M. Jalil Sabib, Abdullah Hasyem, Hasan Ibrahim, T. Adan dan seluruh unsur masyarakat serta MKT (Majelis Keuchik dan Tengku). Hasil loby Bapak Noer Naim dengan Ka. Kanwil PLN persero diterima dan dalam tahun ini (1975) masyarakat Lamlhom menggantikan lampu tradisional dengan listrik.
  Dengan masuknya PLN ke desa maka masyarakat sangat berbahagia karena memudahkan bagi masyarakat untuk beribadah, pengajian, belajar, perobahan alat rumah tangga ke yang lebih baik dan modern seperti TV, tape dan lain-lain.
  Pada masa 1976 keadaan masyarakat pada umumnya masih sangat minim pembagunannya dengan kata lain hampir tidak ada, dan kalaupun ada merupakan swadaya masyarakat dan itupun volumenya sangat kecil hingga adanya perubahan pimpinan pemerintah baik jangka pendek, menengah dan jangka panjang.
   Selama pemerintahan dikuasi oleh Orde Baru seiring dengan program-program pemerintah tersebut sudah mulai ada perhatian dari pemerintah untuk mensubsidi bantuan untuk pembagunan desa/gampong yang besarannya berubah-ubah sesuai dengan perkembangan waktu yang dinamakan Bantuan Desa (BANDES). Banyak pembagunan yang dilaksanakan seperti gedung PKK, Mushalla Wanita, Lapangan volly, membuka jalan baru, drainase dan infrastruktur lainnya. Dalam masa itu masyarakat merasa sejahtera karena:
1. Suasana pembangunan dan keamanan yang kondusif;
2. Harga komoditi pertanian di pasaran menguntungkan petani;
3. Seluruh gampong diberi bantuan dana untuk mengembangkan diri;
4. Seluruh desa diberikan kesempatan untuk ikut lomba desa;
5. Desa Meunasah Baro Lamlhom alhamdulillah pernah berhasil memperoleh juara 1   Lomba Desa tingkat Kabupaten Aceh Besar pada tahun 1994.
    Dalam dekade tahun 1998 s.d 2005 walaupun tetap mendapat bantuan dari pemerintah namun merupakan tahun yang paling meresahkan masyarakat secara umum karena oleh situasi negara sedang dilanda krisis moneter berkepanjangan dimana harga semua komoditas dan semua kebutuhan masyarakat naik, ditambah lagi dengan konflik dimana-mana, keamanan tidak kondusif. Akibat daripada konflik ini segala proyek/rencana pembangunan milik pemerintah tidak berjalan sebagaimana mestinya, demikian juga rencana yang akan dilaksanakan oleh masyarakat.
     Di tahun ini pula sebuah musibah yang paling dahsyat menimpa pesisir barat pantai Aceh pada hari Minggu tanggal 24 Desember 2004 sehingga meluluhlantakkan sarana dan prasarana gampong yang telah dibangun oleh masyarakat  seperti balai meunasah, mushalla wanita, gedung PKK, sarana prasarana olahraga, juga termasuk rumah-rumah masyarakat gampong Meunasah Baro hancur dibawa gelombang sebanyak 50 unit rumah. Pasca tsunami LSM dari berbagai provinsi di tanah air masuk ke Aceh mengevakuasi sisa-sisa mayat yang belum habis dievakuasi oleh masyarakat setempat terutama yang tertimbun sampah dan puing.
     Kemudian tidak kalah pentingnya NGO asing masuk ke desa-desa dengan membawa alat berat untuk membersihkan sampah/puing dan membantu membersihkan sumur-sumur milik masyarakat dengan menggunakan peralatan modern untuk mensterilkan air konsumsi masyarakat. Namun sekarang masyarakat sangat mengharapkan BRR untuk dapat memperoleh rumah bantuan tambahan karena ada masyarakat yang belum punya rumah dan meminta dana untuk merehab rumah yang tidak rusak berat, di samping itu juga meminta sarana dan prasarana yang lain seperti: lampu penerangan jalan, jalan hotmix dan water lading (Air Minum).