Selasa, 18 Februari 2014

PELAKU PEMBANGUNAN GAMPONG

PELAKU PEMBANGUNAN GAMPONG
A.   Pemerintah
1.     Pelaku pembangunan gampong adalah seluruh masyarakat dengan membantu tenaga untuk bergotong royong dengan sumber dana patungan (swadaya).
2.     Dana yang lebih besar sangat diharapkan untuk membangun gampong adalah dari pemerintah yaitu Dana Bandes.
3.     Pembangunan drainase oleh Bandes tahun anggaran 1980-1990 sepanjang 1.230 meter.

B.   Non Pemerintah
1.     Yayasan Inovasi Pemerintah Daerah (YIPD) dengan donatur Bessember yayasan Mantan Presiden USA Bill Clinton.
2.     YIPD membangun pipa air bersih namun gagal total.
3.     Mercy Corp dan Palang Merah Amerika membangun lapangan volley ball, pagar sawah, membantu petani untuk membajak sawah, bibit dan pupuk.
4.     Plan International dan Palang Merah Australia membangun Polindes, Klinik Bersalin dan peralatannya.
5.     Australian AIDS membangun ruang pertemuan dan kantor Keuchik serta sanitasi sepanjang 60 meter.
6.     UN Habitat membantu masyarakat tani untuk menanam palawija dan membangun rumah dinding papan sebanyak 20 unit.
7.     BRR NAD dan Nias membangun 30 unit rumah permanen dan pengerasan jalan sepanjang 2,5 kilometer dalam rangka meningkatkan ekonomi masyarakat tani serta membangun drainase sepanjang 1.500 meter. 

KONDISI DEMOGRAFIS GAMPONG

Orbitrasi (Jarak dari Pusat Pemerintahan Gampong)
  •   Jarak dari pusat pemerintahan kecamatan               : 3,5 kilometer
  •  Jarak dari pusat pemerintahan kota administratif     : 66 kilometer
  •  Jarak dari ibu kota kabupaten Aceh Besar              : 66 kilometer
  •  Drainase / Talut                                                    : 4500 meter
  •  Panjang jalan kecamatan                                        : 2500 meter
  •  Panjang jalan gampong                                          : 5600 meter
  •  Panjang jalan setapak                                             : 5200 meter

Senin, 17 Februari 2014

SEJARAH PEMBANGUNAN GAMPONG

SEJARAH PEMBANGUNAN GAMPONG
     Berawal pada tahun 1945 dimana dilaksanakan pemindahan dan pembangunan kembali meunasah kecil atau balee berukuran 8x5m dari Lambee tempat meunasah Tok Nawa berada ke lokasi baru tempat Meunasah Baro  sekarang berada. Pada akhir kepemimpinan Keuchik Sulaiman (tahun 1945) direncanakan  pembangunan meunasah  berbentuk rumoh aceh dan baru selesai dibangun semasa kepemimpinan Keuchik Ibrahim tahun 1960. Saat Keuchik Ibrahim memegang tampuk pimpinan dan atas kemampuan dan kemauan masyarakat berhasil merehab sumur pada tanggal 5 Mei 1955 yang dikerjakan secara gotong-royong  oleh pemuda Meunasah Baro dan pemuda Meunasah Moncut.
     Pada tahun 1965 masyarakat  menganggap perlu membangun meunasah atau tempat ibadah yang baru. Ide tersebut digerakan  dari hasil musyawarah gampong, maka dengan bergotong royong masyarakat mengambil pupuk gua (ek semantong) di urong (Gua Siblah ) Lampuuk, kemudian pupuk gua tersebut dijual kepada para petani. Disamping itu diperoleh dana patungan (ripee) dan uang atau hasil panen padi dan cengkeh, uang tersebut digunakan untuk membangun meunasah sampai selesai  di tahun 1975.
     Dalam tahun 1975 ini masyarakat Meunasah Baro khususnya dan mukim Lhamlhom umumnya merasa senang  dan bahagia karena ada ide dari sesepuh opinion leader Meunasah Baro Yaitu Bapak M. Noer Naim, yang mana idenya memasukkan listrik PLN ke Desa Lamlhom dan didukung oleh tokoh masyarakat lainnya seperti: Zamzam PG, Muhammad Y, Mahmud MK, M. Jalil Sabib, Abdullah Hasyem, Hasan Ibrahim, T. Adan dan seluruh unsur masyarakat serta MKT (Majelis Keuchik dan Tengku). Hasil loby Bapak Noer Naim dengan Ka. Kanwil PLN persero diterima dan dalam tahun ini (1975) masyarakat Lamlhom menggantikan lampu tradisional dengan listrik.
  Dengan masuknya PLN ke desa maka masyarakat sangat berbahagia karena memudahkan bagi masyarakat untuk beribadah, pengajian, belajar, perobahan alat rumah tangga ke yang lebih baik dan modern seperti TV, tape dan lain-lain.
  Pada masa 1976 keadaan masyarakat pada umumnya masih sangat minim pembagunannya dengan kata lain hampir tidak ada, dan kalaupun ada merupakan swadaya masyarakat dan itupun volumenya sangat kecil hingga adanya perubahan pimpinan pemerintah baik jangka pendek, menengah dan jangka panjang.
   Selama pemerintahan dikuasi oleh Orde Baru seiring dengan program-program pemerintah tersebut sudah mulai ada perhatian dari pemerintah untuk mensubsidi bantuan untuk pembagunan desa/gampong yang besarannya berubah-ubah sesuai dengan perkembangan waktu yang dinamakan Bantuan Desa (BANDES). Banyak pembagunan yang dilaksanakan seperti gedung PKK, Mushalla Wanita, Lapangan volly, membuka jalan baru, drainase dan infrastruktur lainnya. Dalam masa itu masyarakat merasa sejahtera karena:
1. Suasana pembangunan dan keamanan yang kondusif;
2. Harga komoditi pertanian di pasaran menguntungkan petani;
3. Seluruh gampong diberi bantuan dana untuk mengembangkan diri;
4. Seluruh desa diberikan kesempatan untuk ikut lomba desa;
5. Desa Meunasah Baro Lamlhom alhamdulillah pernah berhasil memperoleh juara 1   Lomba Desa tingkat Kabupaten Aceh Besar pada tahun 1994.
    Dalam dekade tahun 1998 s.d 2005 walaupun tetap mendapat bantuan dari pemerintah namun merupakan tahun yang paling meresahkan masyarakat secara umum karena oleh situasi negara sedang dilanda krisis moneter berkepanjangan dimana harga semua komoditas dan semua kebutuhan masyarakat naik, ditambah lagi dengan konflik dimana-mana, keamanan tidak kondusif. Akibat daripada konflik ini segala proyek/rencana pembangunan milik pemerintah tidak berjalan sebagaimana mestinya, demikian juga rencana yang akan dilaksanakan oleh masyarakat.
     Di tahun ini pula sebuah musibah yang paling dahsyat menimpa pesisir barat pantai Aceh pada hari Minggu tanggal 24 Desember 2004 sehingga meluluhlantakkan sarana dan prasarana gampong yang telah dibangun oleh masyarakat  seperti balai meunasah, mushalla wanita, gedung PKK, sarana prasarana olahraga, juga termasuk rumah-rumah masyarakat gampong Meunasah Baro hancur dibawa gelombang sebanyak 50 unit rumah. Pasca tsunami LSM dari berbagai provinsi di tanah air masuk ke Aceh mengevakuasi sisa-sisa mayat yang belum habis dievakuasi oleh masyarakat setempat terutama yang tertimbun sampah dan puing.
     Kemudian tidak kalah pentingnya NGO asing masuk ke desa-desa dengan membawa alat berat untuk membersihkan sampah/puing dan membantu membersihkan sumur-sumur milik masyarakat dengan menggunakan peralatan modern untuk mensterilkan air konsumsi masyarakat. Namun sekarang masyarakat sangat mengharapkan BRR untuk dapat memperoleh rumah bantuan tambahan karena ada masyarakat yang belum punya rumah dan meminta dana untuk merehab rumah yang tidak rusak berat, di samping itu juga meminta sarana dan prasarana yang lain seperti: lampu penerangan jalan, jalan hotmix dan water lading (Air Minum).

DAFTAR INVENTARIS ASET GAMPONG MEUNASAH BARO KECAMATAN LHOKNGA KABUPATEN ACEH BESAR

 Dalam bentuk peralatan:
·         Hand Tractor dengan merek yanmar  jumlahnya 1
·         Hand Tractor dengan merek Kubota jumlah 1
·         Sepeda Motor dengan merek Honda jumlah 1
·         TV 29 inch dengan merek Toshiba jumlah 1
·         Filling Cabinet dengan merek yunika jumlah 2
·         Mesin Ketik dengan merek royal jumlah 2
·         Meja Kantor dengan merek olimpic jumlah 1
·         Meja Kantor / Tulis dengan merek topic jumlah 2
·         Meja Tulis dengan merek expo jumlah 3
·         Kursi Putar dengan jumlah 1
·         Kursi Biasa Hitam dengan merek chitose jumlah 2
·         Kursi Biasa Biru dengan merek chitose jumlah 7
·         Teratak dengan jumlah 2
·         Kursi Plastik dengan jumlah 100
·         Lemari dengan jumlah 2
·         Amplifier dengan jumlah 1
·         Mic & Cable dengan jumlah 2
·         TOA dengan merek TOA Japan jumlah 5
·         Dinamo Pompa Air dengan jumlah 2
·         Mesin Pompa Air dengan jumlah 1
·         Genset dengan jumlah 1
·         Belanga Besi dengan jumlah 4
·         Tungku Besi dengan jumlah 3
·         Drum Plastik dengan jumlah 3
·         Kipas Angin Gantung dengan merek Maspion jumlah 4


·         Timbangan Digital dengan jumlah 1

DAFTAR INVENTARIS ASET GAMPONG MEUNASAH BARO KECAMATAN LHOKNGA KABUPATEN ACEH BESAR

  Dalam bentuk tanah dan bangunan:
·         Meunasah yang berlokasi di dusun Tgk.Arief dengan luas 440 meter
·         Gedung TPA yang berlokasi di dusun Tgk. Arief dengan luas 200 meter
·         Posyandu yang berlokasi di dusun Tgk. Arief dengan luas 280 meter
·         Polindes yang berlokasi di dusun Tgk. Arief dengan luas 420 meter
·         Balai / Kantor Desa yang berlokasi di dusun Tgk. Arief dengan luas 420 meter
·         Balai Pemuda yang berlokasi di dusun Tgk. Arief dengan luas 168 meter
·         Balai Tuha yang berlokasi di dusun Tgk. Arief dengan luas 165 meter
·         Dapur Umum yang berlokasi di dusun Tgk. Arief dengan luas 60 meter
·         Tempat Wudhu yang berlokasi di dusun Tgk. Arief dengan luas 90 meter
·         Mushalla Wanita yang berlokasi di dusun syeh bie dengan luas 728 meter
·         Pondok TPU yang berlokasi di dusun Tgk. Arief
·         Sumur Kecil yang berlokasi di dusun Tgk. Arief dengan luas 47,5 meter
·         Sumur Besar yang berlokasi di dusun Tgk. Arief dengan luas 120,5 meter
·         Lapangan Volley yang berlokasi di dusun Tgk. Arief dengan luas 1359,25 meter
·         WC Umum yang berlokasi di dusun Tgk. Arief dengan luas 42 meter
·         WC Kantor Geuchik yang berlokasi di dusun Tgk. Arief
·         WC Wanita yang berlokasi di dusun Tgk. Arief
·         Gudang yang berlokasi di dusun Tgk. Arief

·        Dapur Bersih Kantor Geuchik. yang berlokasi di dusun Tgk. Arief dengan luas.

DAFTAR INVENTARIS ASET GAMPONG MEUNASAH BARO KECAMATAN LHOKNGA KABUPATEN ACEH BESAR

ASET GAMPONG MEUNASAH BARO

Dalam bentuk tanah, kebun dan sawah:

·         Komplek meunasah berlokasi di meunasah baro dengan luas 2580 meter
·         Tempat pemakaman umum berlokasi di ulee leubok dengan luas 9308 meter
·         Kebun kelapa berlokasi di lampoh bagan dengan luas 4514 meter
·         Kebun lam empee berlokasi di lam empee dan gle ceuk dengan luas 30846 meter
·         Tanah mushalla wanita berlokasi di dusun syeh bie  dengan luas 728 meter
·         Sawah pasong berlokasi di bak mee dengan luas 1300 meter
·         Sawah ie bu berlokasi di lhok bayah dengan luas 917,7 meter
·         Sawah karieng lhee berlokasi di paya dengan luas 2254 meter
·         Sawah paya berlokasi di paya dengan luas 2400 meter.

SEJARAH PEMERINTAHAN GAMPONG

SEJARAH PEMERINTAHAN GAMPONG
     Sistem  pemerintahan gampong  Meunasah Baro berazaskan kepada pola adat kebudayaan dan peraturan formal yang sudah bersifat umum sejak zaman dahulu. Pemerintahan gampong dipimpinan oleh Keucik dan dibantu oleh 2 orang Wakil Keuchik karena pada saat itu dalam susunan pemerintahan gampong belum ada istilah kepala dusun. Wakil Keuchik pada saat itu juga memiliki peran dan fungsi yang sama seperti halnya pada saat ini. Imum mukim memiliki peranan yang cukup kuat dalam tantanan pemerintahan gampong,  yaitu  sebagai penasehat baik dalam penetapan kebijakan di tingkat pemerintahan gampong dan dalam memutuskan hukum adat.

     Tuha Peut menjadi bagian lembaga  penasehat gampong. Tuha Peut juga sangat berperan dan berwenang dalam memberi pertimbangan terhadap pengambilan keputusan-putusan gampong, memantau kinerja dan kebijakan yang diambil oleh Keuchik. Imum Meunasah berperan mengorganisasikan kegiatan-kegiatan keagamaan. Pada zaman dulu roda pemerintahan dilaksanakan di rumah Pak Keuchik dan di lapangan (tengah-tengah masyarakat) karena pada saat itu belum ada kantor Keuchik.

     Urutan pemimpin pemeritahan Gampong  Meunasah Baro atau Keuchik  menurut informasi para Tetua Gampong sampai dengan sekarang adalah sebagai berikut:
No
Tahun
Keuchik
1
1912 - 1915
Pang Rayeuk
2
1915 - 1920
K. Mahmud
3
1920 - 1925
Waki Musa
4
1925 - 1945
K. Sulaiman
5
1945 - 1960
K. Ibrahim
6
1960 - 1975
K. Hasyem
7
1975 - 1986
K. M.Ali
8
1986 - 2003
K. Muhammad Syeh
9
2003 - 2008
K. Muslim
10
2003 - Sekarang
T. Amiruddin